Gunakan Logika dan Kesampingkan Perasaan

Lebih banyak uang yang akan hilang jika melakukan trading forex secara impulsif (menggunakan perasaan) dibandingkan dengan cara lain. Coba ajukan sebuah pertanyaan kepada trader pemula mengapa ia memilih long pada pasangan mata uang, Anda akan sering mendengar jawaban, “Karena nilainya sudah turun -. Jadi itu pasti akan bangkit kembali” Jawaban seperti itu merupakan jawaban yang tidak didasari oleh adanya alasan – itu tidak lebih dari angan-angan/khayalan trader.

Kita tidak pernah berhenti untuk mengkagumi bagaimana keras kepala, sangat cerdas, dan kejamnya pebisnis berperilaku di Las Vegas. Pria dan wanita yang tidak pernah akan membayar bahkan satu dolar lebih dari harga yang dinegosiasikan untuk setiap produk dalam bisnis mereka seperti tidak memiliki pikiran apa-apa ketika kehilangan US$10.000 dalam 10 menit pada roda roulette. Kemewahan, kebisingan dan kegembiraan banyak orang mengubah mereka menjadi mabuk, pengusaha rasional menjadi penjudi bermata liar. Pasar mata uang, dengan quotes yang berkedip sepanjang waktu, arus berita secara konstan dan leverage paling liberal di dunia keuangan cenderung memiliki dampak yang sama pada trader pemula.

Trading forex menggunakan perasaan sama halnya dengan berjudi

Dalam trading forex, seorang trader bisa menjadi sangat terburu-buru ketika mendapatkan keuntungan secara beruntun, tapi hanya dengan satu kerugian yang fatal dapat membuat trader tersebut memberikan semua keuntungan dan modalnya dalam trading kembali ke pasar. Sama seperti setiap cerita judi di Las Vegas yang berakhir dengan patah hati, begitu juga sama halnya dengan trading forex menggunakan perasaan. Dalam trading, menangkan logika dan bunuhlah perasaan. Alasan mengapa pepatah ini benar bukan karena trading dengan logis selalu lebih tepat daripada trading dengan menggunakan perasaan. Bahkan, sebaliknya yang sering terjadi. Trader yang menggunakan perasaan, bisa secara akurat mendapatkan keuntungan terus menerus, sementara trader yang menggunakan setup logis dapat terperosok dalam serangkaian kerugian. Alasan selalu mengalahkan perasaan karena trader yang terfokus secara logis akan tahu bagaimana untuk membatasi kerugian mereka, sementara trader yang menggunakan perasaan tidak pernah jauh dari kebangkrutan total. Mari kita lihat bagaimana masing-masing trader dapat beroperasi di pasar.

Trader Impulsif (menggunakan perasaan) dalam Trading Forex

Trader A adalah trader yang menggunakan perasaan. Dia “merasakan” pergerakan harga dan merespon sesuai dengan perasaannya. Sekarang bayangkan harga EUR / USD bergerak naik tajam. Trader yang menggunakan perasaaan “merasa” bahwa ia telah pergi terlalu jauh dan memutuskan untuk short pada pasangan mata uang tersebut. Pasangan ini menunjukkan kenaikan yang lebih tinggi dan berkelanjutan sehingga meyakinkan trader, sekarang atau tidak sama sekali, yakin bahwa itu adalah overbought (titik tertinggi dan akan segera mengalami penurunan harga) sehingga menjual lebih EUR / USD, membuat posisi short. Harga bertahan, tetapi tidak bergerak berlawanan dengan tren. Trader yang menggunakan perasaan, yang yakin bahwa mereka sangat dekat dengan titik teratas, memutuskan untuk menaikkan posisi tiga kali dan melihat dengan horor bahwa pasangan mata uang tersebut melonjak lebih tinggi, memaksa margin call pada account-nya. Beberapa jam kemudian, EUR / USD berada pada titik teratas dan jatuh, menyebabkan Trader A marah saat ia menonton pasangan mata uang terjual tanpa dia ikut di dalamnya. Dia benar pada arah tapi memilih titik atas secara impulsif, tidak logis.

Trader Analis dalam Trading Forex

Di sisi lain, Trader B menggunakan kedua analisis teknis dan fundamental untuk mengkalibrasi risiko dan waktu masuknya. Dia juga menganggap bahwa EUR / USD dinilai terlalu tinggi(overvalued), tapi bukannya memilih giliran secara prematur sesuai dengan kehendaknya, dia menunggu dengan sabar untuk mendapatkan sinyal teknis yang jelas – seperti lilin merah pada bagian atas Bollinger Band® atau bergerak dalam relative strength index (RSI ) di bawah level 70 – sebelum memulai trading. Selanjutnya, Trader B menggunakan swing high (titik puncak yang tercapai berdasarkan indikator atau harga sebuah aset ) sebagai logical stop untuk secara tepat mengukur risiko-nya. Ia juga cukup pintar untuk mengukur posisi sehingga dia tidak kehilangan lebih dari 2% dari account-nya jika trading gagal. Bahkan jika ia salah seperti Trader A, yang logis, pendekatan metodis Trader B akan mempertahankan modalnya, sehingga ia dapat melakukan trading di hari lain, sedangkan yang sembrono, tindakan impulsif Trader A menyebabkan likuidasi margin call.

Kesimpulan

Intinya adalah bahwa tren di pasar forex dapat bertahan untuk waktu yang sangat lama, maka meskipun memilih yang paling atas dapat menempatkan posisi yang menguntungkan, namun risiko menjadi prematur mungkin lebih besar. Sebaliknya, tidak ada salahnya menunggu sinyal reversal untuk muncul terlebih dahulu sebelum memulai trading. Anda mungkin melewatkan bagian paling atas, tetapi keuntungan hingga 80% dari langkah ini cukup baik. Meskipun begitu, mungin banyak trader pemula yang merasa trading menggunakan perasaan jauh lebih menarik, trader yang berpengalaman tahu bahwa trading secara logis adalah seperti menempatkan roti di atas meja.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memulai Trading dengan Analisis Fundamental, Masuk dan Keluar Pasar dengan Analisis Teknikal

Jangan Menempatkan Resiko Lebih Dari 2%